“ Negeri (Tanpa) Cinta ”
“Kita hidup dinegeri HMI dimana Cinta tak pernah memiliki ruang untuk mengekspresikan dirinya. Sang Pecinta tak jauh berbeda dengan pencuri ayam
yang musti mati di tiang gantungan.”
Teruntuk Dinda
Dia makin merapatkan badannya ke sisi lelaki yang duduk di sampingnya. Sore itu, langit sedikit berawan, mereka berjanji untuk saling bertukar kata di taman kota yang pepohonannya mulai menghijau itu. Sudah lama pertemuan itu mereka rencanakan namun selalu saja ada aral yang menghalang, sampai akhirnya terjadilah pertemuan di sore yang agak berawan itu.
Pertemuan mereka mulai dengan diam yang hanya diisi dengan desah nafas yang seperti memburu. Degup jantung mereka berdua juga kedengaran dengan kentara. Tak ada yang bersuara, mereka berdua larut dalam diam yang selalu siap menampung kegalauan hati. Mungkin mereka bermain dalam pikiran masing-masing.
Banyak hal yang pantas membuat mereka diam tergugu, terutama alasan mereka bertemu.
Mereka berjanji untuk bertukar kata.
Hanya itu.
Mereka tak punya alasan yang lain.
Justru karena hal itulah maka alasan itu dipilihnya.
Mereka bukan saudara, bukan kekasih, apalagi sepasang suami istri. Mereka belum pernah berikrar untuk saling mengikat saudara, apalagi menjadi sepasang kekasih. Sungguh hubungan mereka adalah hubungan yang tak jelas, mungkin merekapun menyadari itu, sehingga mereka berjanji untuk ketemu dan saling bertukar kata. Ya, hanya itu.
Diam masih mengunci mulut mereka, perbendaharaan kata masih tersekat rapi. Mungkin masing-masing mereka sibuk mencari kalimat pembuka, atau mereka lagi membuat puisi untuk itu, mengikut gaya remaja yang sedang kasmaran kalau lagi ketemu.
Keduanya duduk kian rapat, seperti sepasang kekasih, tapi mereka tidak merasa seperti itu.
Atau mungkin mereka saling membohongi diri selama ini?
Mereka adalah sepasang kekasih di kedalaman hati masing-masing?
Tapi mengapa mereka menolak mengakuinya?
Bukankah mencintai adalah fitrah?
Atau mereka mencoba taat pada etika peradaban yang selama ini mengikatnya?
Dengan mengorbankan perasaan cinta yang mereka bina secara diam-diam dalam hubungan yang merekapun tak bisa menamainya?
Angin sore yang berawan menghembuskan udara senja yang dingin, menjadi alasan bagi mereka untuk kian akrab dengan pikiran masing-masing. Duduk mereka di bangku taman itu kian rapat. Tapi mereka tak sampai saling mendekap, mereka tetap teguh menjaga jarak. Mereka hanya berani saling menatap. Tatapan yang begitu lekat, tatapan yang tanpa sekat. Namun mereka tetap mematung dalam diam yang membekukan jarak.
“Untuk apa kita di sini Mas kalau hanya untuk diam dan saling menatap?”
Dia mencoba memulai pembicaraan pada lelaki disampingnya.
Lelaki itu hanya menoleh sejenak, setelah itu dia kembali asyik dengan pikiran sendiri.
“Apa kau puas dengan pertemuan seperti ini?”
“Mengapa kita seperti ini?”
“Mengapa kita disini?”
“Jangan membuatku bingung dengan kediamanmu itu.”
Lelaki itu kembali hanya menoleh.
“Bukankah kita kesini untuk saling bertukar kata?”
“Tapi untuk apa?”
“Aku juga tidak tahu.”
Tiba-tiba lelaki itu mengeluarkan kalimat singkat dengan suara berat dan tertahan.
“Jadi?”
Tanya itu mengapung tak terjawab.
Lama, begitu lama diam itu menjadi selimut keadaan. Lelaki itu mencoba menggeser duduknya agak menjauh lalu membalik badannya mengambil posisi saling berhadapan.
“Bertukar kata, katamu?”
“Apa memang kita datang kesini karena alasan itu?”
“Bukankah kita memilih alasan itu hanya karena kita tak punya alasan lain yang bisa terkatakan?”
“Bagiku, walau hanya diam tapi bila itu bersamamu, itu lebih indah dari ribuan bait puisi.”
“Ah, jangan berkata begitu.”
Dia merasa tersanjung dengan kata-kata teman lelakinya itu.
“Aku tidak suka membahas ini De.”
Lelaki itu bicara lagi.
“Kenapa?”
Tanyanya.
“Karena kita begitu memiliki banyak perbedaan.”
“Perbedaan?”
“Ya, apa kau tidak menyadari itu?”
Dia terdiam. Lelaki itupun terdiam.
“Mas khawatir tentang perbedaan yang ada diantara kita?”
Tanyanya pada teman lelakinya.
“Ya aku khawatir, khawatir sekali!!!”
“Kenapa?”
“Perbedaan yang ada telah membuat jarak kita begitu jauh.”
“Aku takut membahas perbedaan itu, makanya aku memilih diam dan menikmati kebersamaan ini.”
“Bukankah itu sebentuk pelarian!!?”
“Itu tidak akan menyelesaikan masalah kita kan!!?”
Katanya.
“Jadi apa yang harus kita lakukan, sementara kita tak memiliki alasan untuk melakukan lebih dari sekedar bertukar kata?”
Lelaki itu seperti terperangkap dengan keadaan.
“Perbedaan kita begitu besar dan kita tidak punya alasan untuk tidak menghiraukannya.”
“Kita memiliki cinta!!!”
“Bukankah cinta hadir untuk membuat perbedaan itu sebagai serpihan-serpihan keadaan yang tak berarti???”
Katanya.
Lelaki itu balik bertanya.
“Cinta!!?”
“Kalaupun kita memiliki itu, aku kurang sepakat denganmu.”
“Bagiku cinta hadir bukan untuk mengingkari perbedaan, malah sebaliknya, cinta hadir untuk menghargai bahwa kita memang berbeda.”
“Tapi cinta seperti apa yang kita miliki?”
“Kita bukan sepasang kekasih!”
“Kita tak mungkin menjalani kehidupan cinta bersama.”
“Kita tak mungkin memiliki itu!!”
Kembali nada bicara lelaki itu melirih.
Setelah sempat terdiam perempuan itu kembali angkat bicara.
“Kenapa kita tak mungkin memiliki cinta???”
“Kenapa kita tak bisa menjadi sepasang kekasih???”
“Bukankah kita juga manusia yang memiliki perasaan yang sama dengan manusia yang lain???”
“Memang.”
Lelaki itu menjawab.
“Kita punya rasa yang sama dengan manusia yang lain untuk saling mencintai.”
“Tapi . . .!”
Dia memotong pembicaraan teman lelakinya.
“Tapi kenapa!!?”
“Kita tak punya hak untuk itu.”
Jawab perempuan itu.
“Kau tahu?”
“Kita hidup dalam belukar etika dan kita tak mungkin lepas dari situ.”
“Persetan dengan etika!!!”
“Kenapa cinta harus diatur dengan etika!?”
“Mungkin karena cinta telah begitu banyak diselewengkan!”
“Diselewengkan bagaimana?”
“Tapi bukankah kita tidak melakukan itu?”
“Memang kita tidak melakukannya, tapi masyarakat tetap tak akan peduli.”
Mereka terdiam.
Senja makin temaram, awan masih menggantung di kaki langit. Mereka masih duduk di taman itu. Kembali mereka bermain dalam pikiran masing-masing. Tersadar ada jarak yang kian rapat mereka mencoba saling menjauh..mereka tersadar, ada etia yang musti mereka jaga.
Dia kenal dengan lelaki itu sekitar sembilan bulan yang lalu. Perkenalan yang sudah cukup lama bagi sejoli model mereka. Namun sampai sejauh itu, mereka belum bisa memaknai hubungan yang mereka miliki. Mereka yakin bahwa mereka berhubungan bukan lagi sekedar sebagai teman atau sahabat, tapi mereka bukanlah saudara, kekasih atau suami istri. Mereka menjalani hubungan itu apa adanya. Mungkin mereka saling mencintai, mungkin mereka saling menyayangi. Mereka memiliki banyak perbedaan, karakter, cara pandang atau mungkin perbedaan latar belakang. Namun itu tak membuat hubungan mereka goyah. Meskipun mereka harus menjaga hubungan itu agar tidak diketahui oleh masyarakat, karena mereka yakin masyarakat akan menentang hubungan yang tidak jelas seperti itu. Karena itulah mereka biasanya bertemu ditempat dimana keramaian menjadi alasan yang membolehkan mereka berdua. Termasuk pertemuan mereka sore ini, meskipun dengan alasan hanya untuk saling bertukar kata.
Dengan tetap menjaga jarak....
“ Dulu Mas pernah bilang kalo kita hidup di negeri HMI, dimana cinta tak pernah diberikan ruang untuk mengekspresikan dirinya. Sang Pecinta tak jauh beda dengan pencuri ayam, yang musti mati ditiang gantungan”
“Tidak bisakah kita melepaskan diri dari negri ini Mas dan tidak peduli dengan etika peradaban yang mengatur kita?”
“Bisa saja, tapi itu tidak menjadi jaminan bahwa kita bisa menjadi sepasang kekasih.”
“Kenapa?”
“Bukankah hanya itu yang menjadi hambatan terbesar kita?”
Lelaki itu diam sejenak.
“Apa kau lupa bahwa kita begitu berbeda?”
“Bukankah kita memiliki cinta?”
“Tidak cukupkah cinta menjadi alasan untuk saling bersama?”
“Bukankah cinta hadir untuk membuat perbedaan itu sebagai serpihan-serpihan keadaan yang tak berarti?”
“Kenapa kau mengulang pernyataan itu lagi!!?” laki-laki itu menyela...
“Bukankah tadi sudah kukatakan bahwa bagiku cinta hadir bukan untuk mengingkari perbedaan, malah sebaliknya, cinta hadir untuk menghargai bahwa kita memang berbeda?”
Dia mengangkat kepalanya.
“Terserah Mas lah memahami cinta itu seperti apa, aku hanya butuh kepastian dan sudah tak kuat membangun hubungan seperti ini.”
“Kenapa kita harus mencari alasan yang tak perlu hanya untuk bertemu dan melepas rindu?”
“Karena kita bukan sepasang kekasih atau suami istri, sementara itu, masyarakat kita menetapkan bahwa hanya sepasang kekasih atau suami istrilah yang berhak untuk bertemu dan saling melepas rindu.”
Dia terdiam mendengar kata lelaki itu.
“Kalau begitu, kita menjadi saja sepasang kekasih atau suami istri saja agar kita berhak bertemu dan saling melepas rindu.”
Katanya pada lelaki itu.
“Tapi bukankah kita memiliki begitu banyak perbedaan?”
“Apakah kekuatan cinta kita kuat untuk menghargai dan menerima perbedaan itu?”
Dia kembali melemparkan tanya.
“Cinta hadir untuk menghargai bahwa kita memang berbeda dan bukan sebaliknya.”
“Dengan modal cinta itulah kita bisa saling menerima kekurangan dengan kerendahan hati dan saling menghargai perbedaan dengan kebesaran jiwa.”
Jawab teman lelakinya, mempertegas apa yang telah diucapkannya.
Dia menarik nafas dalam-dalam, angin senja yang berawan menjadi saksi ketika dia bertukar kata dengan teman lelakinya.
“Apakah kau dengan kerendahan hati dan kebesaran jiwamu siap menjadikanku sebagai kekasihmu Mas?” dengan berani dia bertanya pada lelaki itu.
“Apakah setiap rasa musti diekspresikan dalam kata….aku sangsi kata mampu mewakili apa yang kita rasa. dan barangkali justru akan mereduksi kedalaman makna yang ada.”. lelaki itu balik bertanya..
”Iya mas….aku tahu itu. Tapi apakah salah jika aku ingin apa yang mas rasa mas ungkapkan dalam kata...agar kita sama-sama yakin bahwa kita bukan sekedar kekasih di kedalaman hati masing-masing kita.”
Untuk yang kesekalian kalinya lelaki itu menghela nafasnya dalam-dalam dan seketika terlontar kata dari mulutnya
”Musti aku akui.....dari dulu aku mencintaimu.”
“Aku mencintaimu karena Tuhan telah mengamanahkan sebagaian CintaNya pada ku. Bagiku memiliki rasa ini adalah anugerah terindah dalam hidupku. Sejujurnya aku tak pernah mencintai seseorang sedalam dan sehidup ini. Aku berharap kita akan selalu bersama....be eternity ”
Jawab lelaki itu.
“Meskipun negeri kita melarangnya Mas dan menyiapkan tiang gantungan untuk kita??”
Tanya perempuan berjilabab itu.
“ Tak seorangpun akan menyangkal bahwa cinta adalah pengorbanan…
Dengan segala resiko yang ada kita akan tetap bersama “. Ucap lelaki itu layaknya kisah dalam roman picisan..
“Tapi....satu persatu orang yang aku cintai pergi dari kota ini..dan barangkali suatu saat Mas juga akan pergi dari kota ini. Cuma waktu yang bisa menjawab.”
Ucap perempuan itu dengan kesedihan yang mendalam dimatanya.
Laki2 itu masih terdiam, dan tak lama keluar dari mulutnya
“Cinta tak pernah mengenal batas ruang dan waktu. Demi Tuhan yang di TanganNya cinta digenggam.........I’ll love you till the end of time..
Jika Tuhan berkehendak dimanapun aku berada kelak. Jiwa kita akan tetap satu.”
Dewi cinta tersenyum melihat sejoli di senja itu.
Semestapun serempak berdoa untuk mereka.
“Smoga Tuhan Memberkati dan menyatukan mereka
hingga ujung waktu…… “
Eemienn……
NB: Kita musti mengakui, HMI terlalu suci untuk kita.
Dan barangkali kita adalah salah satu produk gagal dalam HMI
yang tak pernah patuh pada etika peradaban yang telah
dibangun didalamnya....
Semoga HMI mau memaafkan kita.
Dan jika pun tak pernah ada ”maaf” itu kita tetap berharap HMI
masih sudi menyiapkan ” Tiang Gantungan” terindah utuk kita....
Publisher:(esai, cerpen fiksi/nyata, wacana atau tulisan jenis apalah.... yang pasti ini tulisan saudara kita, yang diketemukan tidak dengan sengaja...)
Wednesday, June 3, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
yang Sabar Shobat, waktu akan menjawab semua kegundahanmu... tetap berjuang dalam koridor yang lurus ya!!!
ReplyDelete